Anak Tidak Mau Bergaul, Ini Solusinya!

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Saat istirahat tiba, Miqdam hanya mau bermain di dalam kelas. Sesekali anak itu mendekati saya yang sedang menata hasil kegiatan melipat hari itu. Tubuhnya yang kecil bergelayut manja sambil tangannya meraih lipatan kertas berbentuk perahu di atas meja. Mulutnya diam, sesekali matanya menatap seakan ingin mengucapkan sesuatu.

“Main di luar yuk, bersama teman yang lain,” ajak saya. Miqdam hanya menggelengkan kepala. Tubuhnya tetap tak lepas dari sandaran tubuh saya. Anak usia empat tahun itu kemudian meminta saya mengambilkan tiga set permainan puzle. “Mau main puzle?” “Ya” jawab Miqdam.

Kasus di atas hampir dialami orang tua dan umum terjadi pada anak usia dini. Anak yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan dalam bersosialisasi dengan baik. Hal ini terjadi karena beberapa faktor sehingga anak masih enggan untuk menerima lingkungan mainnya sebagai tempat belajar dan menambah wawasan pengetahuannya.

Pada anak, hubungan sosial tercipta karena kemampuan bermain dengan lingkungan. Seiring waktu kemampuan sosial emosional akan menjadi meningkat sesuai usia dan perkembangan anak. Anak mengalami kemajuan dari tahap bermain sendiri menuju tahap bermain secara kelompok. Namun pada kenyataannya ada beberapa anak yang tidak mau bergaul atau bermain bersama dengan beberapa sebab baik berasal dari diri anak sendiri maupun dari lingkungan.

Penyebab dari anak antara lain, faktor fisik dimana anak yang mengalami kekurangan menyebabkan menarik diri dari lingkungan bermainnya. Adapun faktor dari luar adalah beberapa sikap orangtua yang terlalu otoriter terhadap anak karena kekhawatiran yang berlebihan atau sebab lain, atau orangtua yang tidak memiliki inisiatif saat melihat anak belum mau bermain dengan teman-temannya, “ah, biarkan saja, anak nggak mau kok dipaksa” demikian alasannya.

Penyebab lain adalah anak yang mengalami ketidaknyamanan saat bermain bersama, karena sering diejek, dicemooh dan sebagainya sehingga menarik diri dari pergaulan. Jika dibiarkan, hal ini dapat bersifat permanen jika orangtua atau guru tidak mampu mencari solusi yang tepat dan akan merugikan dalam perkembangan sosial dan emosional anak.

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Penulis adalah seorang pemerhati pendidikan anak-anak. Semua tulisan dan isi dalam website ini adalah dirangkum, diambil, di copy dari berbagai sumber di internet. Tulisan dan konten yang terdapat dalam website ini BUKAN hak cipta dari penulis. Jika ada tulisan atau isi konten yang tidak sesuai dan melanggar hak cipta, silahkan hubungi penulis agar segera dihapus. Terima Kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *