Ini yang menyebabkan anak PAUD bisa Stress.

Belajar membaca, menulis dan berhitung (calistung) tidak wajib dilaksanakan di tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD). Malah jika anak PAUD dipaksa belajar calistung dia akan stres.

Pasalnya, fungsi otak manusia berusia di bawah 7 tahun  tidak semuanya mampu menerima dan memahami mekanisme calistung secara klasikal. Direktur PAUD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Hasbi menegaskan,  anak baru wajib belajar calistung saat masuk sekolah dasar atau berusia di atas 7 tahun.

“Materi ajar di jenjang PAUD fokus pada pedidikan karakter positif. Misalnya, mendidik anak untuk tertib antre dan membangun budaya hidup bersih dengan tidak membuang sampah sembarangan,” kata Hasbi kepada “PR” via telefon, di Jakarta. Menurut dia, penanaman karakter menjadi yang utama dibandingkan dengan mengasah kemampuan kognisi anak.

“Memang mekanismenya lebih banyak pada bermain dan belajar. Untuk merangsang pertumbuhan fisik dan psikis mereka. Sebetulnya memberikan pangajaran baca tulis itu tidak dilarang, tapi jangan klasikal. Harus memiliki arti, meaning full. Misalnya menjelaskan manfaat makan buah-buahan. Bukan mengutamakan mengeja huruf nama buah-buahan,” tutur  Hasbi.

Ia menjelaskan, secara teoritis, anak seusia PAUD (4-6 tahun) itu belum bisa menerima pembelajaran kompleks seperti calistung. Jika dipaksakan belajar calistung, anak-anak PAUD terancam stres dan tumbuh kembang kapasitas otaknya akan berdampak panjang. Selain calistung, anak PAUD juga harus dihindarkan dari belajar bahasa yang berlebihan.

“Kami menghindari anak itu stres sejak awal, misalnya membaca sebelum usia 7 tahun. Bahkan belajar bahasa tertentu yang kompleks. jadi sangat berpengaruh karena tumbuh kembang yang dipaksakan akan terbawa sampai dewasa. Anak yang dipaksakan belajar calistung, prestasinya di SD jadi cenderung menurun,” ujarnya.

Ia menuturkan, menghindarkan anak PAUD untuk belajar calistung tertulis jelas dalam Permendikbud Nomor 8 Tahun 2018 tentang Penyediaan Layanan PAUD. Pada pasal 9 ayat 1 ditegaskan, pembelajaran dalam PAUD dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan berpusat pada anak dalam konteks bermain sesuai dengan tingkat pencapaian seorang anak. “Pada ayat 2 berbunyi tidak mengutamakan kemapuan baca, tulis dan hitung,” katanya.

Masuk SD dilarang tes Calistung

Ia mengatakan, dalam pelaksanaannya, saat ini masih terjadi persoalan terkait guru SD dan PAUD saat melakukan penerimaan murid baru pada jenjang SD. Guru SD kerap mengeluhkan anak PAUD yang belum bisa membaca. Bahkan, di beberapa daerah, masih ada SD yang menggelar tes calistung dalam penerimaan peserta didik baru jenjang SD. “Perlu duduk bersama antara guru di PAUD dan SD untuk menyambungkan ini. Guru SD harus mengetahui apa produk dari PAUD,” katanya.

Sekretaris Jenderal Kemendikbud Didik Suhardi mengatakan, tes calistung untuk masuk SD mendapat perhatian serius Kemendikbud. Menurut dia, berdasarkan kajian dan diskusi panjang semua pihak terkait, Kemendibud memutuskan SD dilarang menggelar tes calistung.

“Tapi memang ini persoalan ga mudah di lapangan. Saya sendiri sudah cerita beberapa kali, damaikan guru PAUD dan SD. Guru SD mengeluh ke saya, anak didik baru ga bisa baca, merepotkan guru SD. Tapi guru PAUD juga menjawab, prinsip ga bisa memaksakan anak PAUD belajar calistung. PAUD adalah taman bermain,” kata Didik.

“Bahwa memang di PAUD itu prinsipnya ga boleh calistung. Belajar simbol-simbol boleh. Tapi kalau kemudian ada anak PAUD yang sudah bisa calistung, ya tidak apa-apa. Tapi itu bukan tujuan utama dari pendidikan di PAUD,” kata Didik.

( Sumber : Internet )

Penulis adalah seorang pemerhati pendidikan anak-anak. Semua tulisan dan isi dalam website ini adalah dirangkum, diambil, di copy dari berbagai sumber di internet. Tulisan dan konten yang terdapat dalam website ini BUKAN hak cipta dari penulis. Jika ada tulisan atau isi konten yang tidak sesuai dan melanggar hak cipta, silahkan hubungi penulis agar segera dihapus. Terima Kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *